/Neighborhood

Trottoart
, / 1 August 2012

Terletak di Cisitu – Bandung, Trottoart dimiliki oleh seorang pria berpenampilan gahar bernama Doni Zleer, yang kerap dipanggil Donzleer. Donzleer adalah seorang pecinta motor, namun ide untuk membentuk Trottoart muncul ketika Donzleer terlibat dalam sebuah kecelakaan dan menabrak trotoar ketika sedang mengendarai motor Harley Davidsonnya. Sejak kejadian tersebut, Donzleer cenderung trauma ketika melihat trotoar. Untuk mengatasi traumanya, Donzleer membuat trotoar di rumahnya sendiri, sebagai terapi pribadinya.

Perjalanan hidup Donzleer sendiri dimulai dari saat ia lulus kuliah dan mulai bekerja di UNESCO. Hidupnya didedikasikan untuk membantu anak-anak jalanan di Bandung, termasuk dengan membuat yayasan yang ditujukan untuk membantu anak-anak jalanan tersebut. Donzleer juga turut aktif membantu anak-anak jalanan belajar. Awalnya rumah Donzleer terbuka untuk siapa saja, sampai salah satu kru dari Hells Angels asal Polandia bertandang ke rumahnya. Sejak itu, rumah Donzleer mendapat perhatian dari khalayak sampai diliput oleh majalah di Amerika sebagai salah satu orang terbaik di dunia.

Donzleer sendiri sudah menikah dengan seorang wanita dari Belanda dan mempunyai seorang anak perempuan yang sudah ditunggu-tunggu selama 13 tahun dan dinamainya Sunda. Ayah dari Donzleer adalah seorang penari Sunda terkenal di Bandung, ini menjelaskan dari mana Donzleer mendapatkan darah senimannya. Ia menata rumahnya sendiri dengan pernak-pernak vintage yang dekat dengan hobinya; motor dan bir. Ia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah menyentuh narkoba seumur hidupnya, hanya bir lah peneman hari-harinya. Karena konsep rumahnya yang terbuka untuk siapa saja, Trottoart mulai dikenal orang dan dijadikan tempat nongkrong karena dekorasinya yang unik, dan terutama karena cerita-cerita pemiliknya yang menarik. Donzleer sampai menyediakan bir yang dijual khusus untuk tamu-tamu yang datang saking banyaknya orang yang berkunjung ke rumahnya.

Ketika SUB sedang berkunjung ke rumahnya, SUB juga dijamu dan diberikan makan seperti layaknya seorang teman lama. Donzleer berbagi pengalaman hidupnya dan bahkan mempunyai pelesetan “Rumah gue buka 25 jam, kalau lo lagi di Bandung dan nggak ada tempat nginep, lo ke sini aja juga nggak apa-apa.” Pada saat SUB sedang di Trottoart, ada seorang pelaut asal Jurong West – Singapura yang sedang menginap di sana. Trottoart sudah seperti rumah kedua bagi banyak pelancong dari seluruh penjuru dunia.

Kini, Donzleer berencana untuk membuat tempat lain dengan konsep yang sama seperti Trottoart, namun di lokasi yang jauh lebih tinggi, yakni di bukit. Konsep rumahnya sendiri mengadaptasi rumah Gadang asal Padang.

Tulisan oleh Soraya Felicia
Foto-foto oleh Daniel Purba

Trottoart
Jl. Cisitu
Bandung – Indonesia

 

Related Post

The epic collaboration between music and visual art
16 November 2016
Women empowerment through art
4 August 2016
Seven Magic Mountains Installation shows the power of colors that will blow your mind- because, who knew a stack of colorful rocks could make people so happy?
18 May 2016
Syagini in this solo exhibition “Spectral Fiction” made a world of her own, much more like Alice in James Turrell’s land
17 May 2016

Popular Post

Roemah Pulomanuk is the perfect combination of relaxing getaway and getting closer to nature at the same time
29 August 2012
Älska is a one-stop-treasure-shop where you can find all sorts of wonderful knick knacks from faraway and exotic places around the globe
7 July 2014
The home and design Indonesian made Plan B’s creative duo Anezka and Ifa shares decorating ideas to Sub-Cult over margaritas and spiced chocolate
18 June 2014
For this issue of You’re It, we turn to Kims, the dude behind Capital Jakarta and one of Sub-Cult’s founders
19 May 2014
Open menu