/Features

THRIVE-ING IN STYLE!!
, / 7 May 2014

Beberapa tahun belakangan custom motorcycle lifestyle menjadi “komoditas” yang sangat menarik. Semua berlomba-lomba menjual image gaya hidup pengendara motor yang bebas, baik dalam berkreasi atau dalam menjalani hidup, melawan norma-norma yang berlaku di masyarakat kebanyakan. Kecendurangan ini bisa kita lihat di berbagai advertising campaign, baik di dunia fashion atau bahkan di industri-industri lain yang tidak terlalu terkait dengan motorcycle lifestyle. Atau bisa dilihat juga banyaknya clothing brand yang design-designnya mendadak menjadi berbau motor-motoran. Menurut kami hal tersebut bukanlah masalah, karena justru akan memberikan exposure positif ke skena custom motorcycle lokal yang sedang berkembang pesat.

Seiring dengan perkembangan scene custom motorcycle lokal dan lifestylenya, banyak bermunculan juga bengkel-bengkel custom baru yang dimotori oleh orang-orang muda berbakat, salah satunya yang cukup menonjol adalah Thrive Motorcycle, sebuah custom motorcycle garage yang berlokasi di Kemang Timur Raya, Jakarta. Seperti kebanyakan custom shop independen yang lain, Thrive Motorcycle menawarkan jasa modifikasi motor dari berbagai tipe yang ada di pasaran dan merubahnya menjadi motor custom yang dibangun spesifik sesuai dengan keinginan client berdasarkan hasil diskusi antara client dengan designer/builder Thrive Motorcycle. Yang membuat Thrive Motorcycle cukup menonjol adalah walaupun bisa dikategorikan sebagai pemain baru tetapi karya mereka sudah banyak di tampilkan di media online baik lokal maupun internasional. Di sebuah buku motor yang memuat karya builder dari seluruh penjuru dunia, karya Thrive Motorcycle bersanding dengan karya-karya dari builder dunia sekelas Roland Sands (USA), Cole Foster (USA), Hawgholic (Japan), Shinya Kimura (Japan/USA), Wrencmonkees (Denmark), Rough Crafts (Taiwan).

tmc3

Untuk tau lebih banyak tentang the new kids on the block, Sub-Cult berhasil duduk dan berdiskusi sedikit dengan orang-orang di belakang Thrive Motorcycle, di sela-sela kesibukannya belanja parts di kota dan running an awesome custom shop fueled by super talented boys.

Boleh cerita sedikit tentang Thrive Motorcycles, tempat apaan sih itu? Siapa saja orang-orang di belakang Thrive MC dan keterkaitannya dengan latar belakang kalian masing-masing.

Thrive Motorcycles adalah custom motorcycle garage yang berlokasi di Jakarta, yang diprakarsai oleh lima orang muda pecinta budaya roda dua dengan latar belakang dari ranah desain grafis.

Awal perkenalan kita satu sama lain berawal sejak masa kuliah, karena kebetulan kami kuliah di kampus yang sama. Walaupun memiliki latar belakang pendidikan yang sama, di Thrive MC kami masing-masing memiliki tanggung jawab dan peran masing-masing. Kami sadar kalau kami masih dalam proses terus belajar, yang pasti apa yang kami lakukan selalu berangkat dari antusiasme dan akan terus berkembang seperti itu. Karena itu pula kami merasa ada dorongan yang sangat kuat untuk membangun “rumah” untuk kami bernaung, yang bisa menampung segala bentuk ide liar kami tentang hidup, motor dan seni. Kami juga percaya bahwa “design thinking” bisa menjadi kendaraan yang tepat untuk segala jenis bisnis. Maka kami memutuskan untuk merintis bisnis yang tergerak oleh passion kami, yaitu motor.

tmc2

Jasa layanan seperti apa saja yang ditawarkan oleh Thrive MC?

Pada dasarnya apa yang kami lakukan adalah “membuat motor”, karena dalam proses mencipta selalu melibatkan belajar, riset dan bagaimana merealisasikan ide yang bersifat intangible menjadi sebuah produk yang tangible.

tmc1

Bagaimana kalian menjalankan Thrive MC sebagai sebuah unit bisnis?

Kami disini tidak berbisnis, kami sekedar mencoba untuk merubah dunia *tertawa*. Ngga juga sih, pada dasarnya kami memiliki beberapa unit bisnis disini, tujuannya tidak lain adalah untuk saling men-support antar tiap unit bisnis Thrive MC. Kami percaya fame & fortune bukanlah goal utama, tetapi apabila kami melakukan segala hal dengan passion, kedua hal tersebut akan ngikut. Ngga terlalu dipikirin juga sih, kami hanya selalu berusaha melakukan apapun yang kami lakukan sebaik mungkin sesuai passion kami dan terus berkreasi menciptakan “mahluk-mahluk” yang indah dan tidak lupa bersenang-senang dalam waktu bersamaan.

Menurut kalian kondisi ideal seperti apa yang diperlukan dalam menjalankan bisnis custom motorcycle di Indonesia?

Indonesia bisa menjadi sangat ideal dalam merintis dan menjalankan industri ini, walaupun tetap ada berbagai batasan baik secara internal kami maupun dari lingkungan eksternal. Sebutlah urusan kebijakan pemerintah dalam industri otomotif pada umumnyaSelama ini kebijakan yang ada kurang berpihak pada usaha-usaha skala kecil di industri otomotif, kebanyakan yang diuntungkan hanyalah pemain-pemain besar. Sekedar contoh kasus, kadang dalam berkarya ada keinginan untuk ber-eksperimen dan menciptakan sesuatu yang lebih “besar”. Katakanlah kami membutuhkan tipe mesin yang spesifik agar senafas dengan design kami, tetapi kadang menjadi bengkel independen memiliki batasan-batasan tersendiri, misalnya dari segi budget, karena terkadang mesin-mesin itu harus di import langsung dari luar negeri atau kalau pun sudah ada yang di Indonesia harganya lumayan bikin mules. Hal-hal seperti ini juga sangat berpengaruh terhadap industri otomotif berskala kecil seperti kami. Terlebih lagi karena status Indonesia sebagai negara penyerap atau konsumen, bukan sebagai negara produsen motor utama seperti Amerika, Eropa dan Jepang. Di negara-negara yang disebut barusan, segalanya sangat di permudah, mulai dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang transparan dan mendukung industrinya sampai dengan kemudahan dalam hal ketersedian supporting supplies, seperti spare parts dan alat-alat kerja canggih dengan harga terjangkau. But as the old man said; “critics don’t change the world, makers do! *tertawa*

tmc5

Bagaimana awal mula keterlibatan kalian di scene custom motorcycle lokal?

Beberapa dari kami memang sudah lebih dulu terjun di dunia permotoran, dan sebagian mulai tertular virusnya belakangan, tetapi kami memiliki kesamaan passion dalam berkreasi, mendesain dan menciptakan motor custom. Semua berawal dari keisengan mengerjakan modifikasi motor pribadi kami di garasi. Kami melakukan itu untuk beberapa waktu sampai sekitar tahun 2011, kami mulai mengerjakan proyek motor teman-teman, sampai akhirnya di tahun 2012, ide untuk mendirikan Thrive Motorcycle baru benar-benar matang. Kami juga melihat scene lokal yang sedang berkembang pesat dan adanya peluang untuk meng-eksplor passion kami. Kami melihat masih ada yang salah, atau mungkin lebih tepatnya adanya kekosongan atau gap di scene lokal, dan kami banyak berharap keberadaan Thrive MC dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan scene custom motorcyle lokal.

tmc4

Apa goal yang ingin dicapai dengan adanya Thrive Motorcycles? Dimana kalian melihat posisi Thrive MC di scene lokal dalam lima tahun ke depan?

Wah, pertanyaan yang cukup sulit nih. . .*tertawa*. Pada dasarnya tidak ada istilah paling hebat dalam segala hal, karena akan selalu ada langit di atas langit. Dan kami pun tidak pernah terlalu serius memikirkan untuk harus jadi yang terbaik, itu hanya akan menambahkan beban pikiran yang ngga penting. So, buat kami yang terpenting adalah menjaga sustainibilitas bisnis/”rumah” kami ini, dan semoga yang kami lakukan bisa menjadi inspirasi untuk pelaku-pelaku scene di seluruh dunia. Untuk kedepannya, kami sangat ingin untuk berkolaborasi lintas disiplin/industri baik di scene lokal maupun internasional.

Kondisi seperti apa yang menurut kalian ideal untuk mengembangkan scene custom motorcyle lokal sebagai satu kesatuan?

Di dunia yang sangat dinamis ini, hampir tidak ada yang bisa di definisikan sebagai kondisi ideal. Setiap sub-kultur memiliki masalah dan keuntungan masing-masing. Tidak akan pernah ada keseragaman dalam hal batasan-batasan dan perkembangan di setiap scene. Kami hanya berharap apa yang sudah kami lakukan dapat memberikan dampak positif untuk lingkungan sekeliling kita.

Pendapat kalian tentang image permotoran dan custom culture life style yang sedang sangat laku dijual? Kalo dilihat kondisinya saat ini, it’s like, everybody wanted to be part of the ride!!

Another hard question *tertawa*. Dengan keberadaan budaya roda dua yang sudah tumbuh berkembang sejak era 1930an, dan di Indonesia sendiri sudah ada sejak era 1960an kalo ngga salah. Menurut kami bebas-bebas aja sih, buat siapapun yang ingin ikut terlibat atau bermain di kultur ini, kebetulan aja belakangan ini custom motorcycle culture sedang naik pamornya. Jadi menurut kami sah-sah aja kalau mereka mau sekedar ikut tren yang ada biar keliatan, karena buat kami, ini tidak pernah tentang tren dan keren atau tidak. Kultur roda dua sudah lebih mengarah ke hal yang bersifat spiritual buat kami.

tmc6

Selain ngobrol-ngobrol tentang Thrive MC, Sub-Cult juga memberikan beberapa pertanyaan pribadi yang jawabannya sedikit banyak dapat menggambarkan orang-orang di belakang Thrive Motorcycle.

Walt Siegl atau Shinya Kimura?

Dimas: Shinya Kimura.
Angga: Shinya Kimura.
Barata: Mr. Kimura.
Putra: Randy Slawson.
Indra: Shinya Kimura.

Cafe Racer/Tracker atau Bobber/Chopper?

D: Both of them.
A: Bobber/Chopper.
B: Bobber with fairings can be cool too.
P: Post Apocalyptic Adventure.
I: All of them.

Siapa desainer favorit kalian, lokal dan internasional?

D: Local: Eric Widjaja, Leonard Theosabrata.
Internasional: Tibor Kalman, Jonathan Bambrook.
A: Internasional: Dieter Rams.
B: Lokal: Eric Widjaja.
Internasional: Dieter Rams, Shigeo Fukuda.
P: Lokal: Davi Linggar, Anton Ismael.
Internasional: Wes Anderson, Annie Liebovitz, Mark Toia, Bruno Aveillan.
I: Lokal: Eric Widjaja.
Internasional: Horacio Pagani, Daniel Simon, Jonathan Bambrook.

Apa motor idaman kalian?

D: Yamaha XS650.
A: Harley Davidson 1947 FL.
B: Honda CB450 KO “Black Bomber”.
P: Yamaha XT660 Ténéré Dakar.
I: Harley Davidson XR1000.

Ideal riding outfit di Jakarta?

D: T-shirt, heavy denim, boots (flannel if needed).
A: Helm half face, heavy duty denim, boots, t-shirt, scarf dan aviator, glasses.
B: T-shirt, denim, sneakers atau boots.
P: Kaos lengan panjang, denim/celana panjang dan sneakers.
I: Helm, t-shirt, denim, sneakers.

Sebutkan lima lagu yang masuk dalam list riding soundtrack kalian.

D: Radiohead – There there.
The Doors – Riders on the Storm.
Happy End – Kaze Wo Atsumete.
Motörhead – Iron Horse/Born to Lose.
The Toyes – I Smoke Two Joints.
A: Not riding a CVO bike, jadi gemuruh mesin sudah lebih dari cukup.
B: Dio – Stand Up and Shout.
Motörhead – Ace of Spades.
Black Sabbath – Paranoid.
Judas Priest – Ram it Down.
Steppenwolf – Born to be Wild.
P: A-Ha – Stay on These Roads.
Bon Jovi – We Weren’t Born to Follow.
God Bless – 2002.
Edward Sharpe & The Magnetic Zeros – Home.
Manic Street Preachers – Autumn Song.
I: Mychael Danna – Meeting Khrisna.
Guruh Gipsy – Indonesia Mahardika.
Happy End – Kaze Wo Atsumete.
Wolfmother – Joker & The Thief.
Red Hot Chili Peppers – Higher Ground.

Interview by Wira Bakti
Photographs courtesy of Thrive Motorcycle

Related Post

10 August 2017
From the Hardwood to the Green
7 August 2017
28 July 2017
Another fresh addition to the Nike Air Max 2017 Collection
25 July 2017

Popular Post

Roemah Pulomanuk is the perfect combination of relaxing getaway and getting closer to nature at the same time
29 August 2012
Älska is a one-stop-treasure-shop where you can find all sorts of wonderful knick knacks from faraway and exotic places around the globe
7 July 2014
The home and design Indonesian made Plan B’s creative duo Anezka and Ifa shares decorating ideas to Sub-Cult over margaritas and spiced chocolate
18 June 2014
For this issue of You’re It, we turn to Kims, the dude behind Capital Jakarta and one of Sub-Cult’s founders
19 May 2014
Open menu