/Features

Aliran Kecupan Absurd Fluxcup
/ 13 May 2014

Sub-Cult mendapatkan kesempatan menarik untuk mewawancarai Fluxcup, figur dibalik video-video lucu dan absurd dengan YouTube followers lebih dari 5,000 orang. Tentunya melihat karya video Fluxcup akan menimbulkan berbagai reaksi yang berbeda, tetapi kami yakin semua orang mempunyai satu hal yang sama dalam pikirannya “why?”. Dalam kesempatan ini kami berusaha mengorek isi kepalanya, dan tentunya lahirlah salah satu interview paling menarik dan absurd yang pernah dilakukan Sub-Cult.

Fluxcup_header web

Ucup aka Fluxcup. Alias yang lo pakai ini cukup unik ya. Bisa tolong ceritakan cerita dibalik alias ini? Bagaimana lo bisa memutuskan untuk pakai alias seperti itu?
Fluxcup itu pada awalnya adalah nama sebuah produk yang mengandung tetrahydrocannabinol, yang saya ciptakan untuk memenuhi asupan nutrisi yang bermanfaat untuk memulihkan dan menjaga kesehatan tubuh manusia. Namun setelah mengalami quality control, produk tersebut dinyatakan mengandung zat kimia yang berbahaya yang bisa menyebabkan dehidrasi informasi, meningkatkan gairah bermain, merusak sistem hak-hak kekayaan intelektual, memicu pemikiran anti-nalar, adiksi sarkastik, gangguan tulang pipi, distraksi random dan bikin bego. Maka produk tersebut gagal untuk disebut produk kesehatan. Melainkan sebuah produk identitas. Fluxcup, merupakan sebuah produk identitas yang banal, absurd, jahil, cenderung impulsif, proggresif, sinting, kasar dan anti-estetis, terinspirasi dari sebuah pergerakkan (anti) senirupa dari beberapa seniman intermedia di Eropa yang bernama Fluxus. Fluxcup, dalam bahasa Latin Flux = flow, fluid ; Cup = kecupan, jadi Fluxcup itu artinya kecupan yang mengalir. Satu hal lagi, mohon maaf dan jangan terkejut jika dalam wawancara ini pesan-pesan yang saya sampaikan bakal ada distorsi sedikit, karena saya sedang dalam pengaruh Fluxcup.

Lo udah jadi seniman sejak beberapa tahun lalu, dan sering pakai media video dalam berkarya. Berapa lama lo akhirnya ambil keputusan untuk memilih ranah videography sebagai spesialisasi lo?
Kalau ditanya lebih sering menggunakan medium video dalam berkarya sih tidak selalu, karena saya adalah seorang visual artist yang bergerak di ranah artistik yang mempunyai kebebasan menggunakan medium apapun. Kedekatan dan ketertarikkan saya dalam mengolah gambar gerak berawal ketika saya menjadi budak industri hiburan di beberapa rumah produksi dan TV swasta yang sifatnya pesanan dan kejar setoran. Disaat itu pula saya mulai jenuh dengan pekerjaan saya sebagai motion grapher / video editor/ graphic designer / music engineer / stuntman/ penari latar hingga penangkal petir yang harus selalu mengikuti selera serta aturan dari klien yang menginginkan kualitas pesanan ideal dengan estetika dangkal lewat konten yang klise. Lalu saya putuskan untuk bergeser ke wilayah anti-thesis dengan adanya kemudahan teknologi yang diiringi kemampuan saya bermain-main dan memanipulasi gambar gerak. Saya kemudian menterjemahkan kembali bentukkan informasi yang berupa digital kedalam bahasa rupa yang manipulatif. Dari sinilah saya mulai mendistorsikan pesan-pesan lewat permainan perspeksi dan ekspektasi.

Karena lo suka videography. Apa video favorit lo? Bisa tolong ceritakan apa yang lo suka dari video itu? Untuk video dengan wacana seni, saya suka video-videonya Azorro Group (Polish), sekumpulan seniman yang menggelitik medan senirupa lewat dialog yang simple dan beranggapan bahwa seni itu sudah mati. Lalu video-video performance-nya Remi Gaillard (French) yang mengganggu kenyamanan masyarakat lewat performance-nya diruang publik. Untuk video dengan pengolahan artistik, saya suka video-video karya Jan Svankmajer. Untuk video dengan wacana seks, saya suka Teletubbies dan Donal Bebek. Untuk mengetahui sisa pulsa anda..tekan 1. Untuk mengisi pulsa tekan 2. Untuk kembali ke menu utama, tekan 3.

Lo sudah buat beberapa video sejak beberapa waktu lalu, dan bahkan kebanyakan video buatan lo ini bersifat viral. Terutama video parodi Arya Wiguna ya. Kita bisa lihat kalau dari video-video parodi itu lo semacam mencemooh mereka, tapi sebenarnya apa motif dibalik pembuatan video ini?
Ketertarikkan saya dalam meminjam dan mengolah bentukkan visual yang sudah ada (ready made), merupakan intensi saya sebagai seniman yang sering mencoba memanipulasi/mengganggu citraan yang diterima oleh audiens karya saya, untuk menciptakan pengalaman menonton yang berbeda serta penyampaian pesan yang distortif. Saya memberikan tontonan alternatif pada audience yang sudah punya tabungan memori akan pesan yang sudah mereka terima sebelumnya. Dengan membuat “dunia” ketiga dari oposisi biner keseriusan dan kenyamanan yang saya intervensi medan psikologis dan sosialnya yang berdampak pada sudut pandang publik yang saya acak persepsinya. Hasilnya? Ya Arya Wiguna jadi bego. Thom Yorke jadi idiot. Nine Inch Nails jadi sekumpulan orang-orang terbelakang. AKB48 jadi sekumpulan gadis cantik bersuara lelaki.

Bisa tolong ceritakan proses pembuatan video parodi ini?
Saya menggabungkan dua prinsip yang bertolak belakang, dimana dorongan saat bermain bisa menjadi serius, dan keseriusan bisa menjadi mainan. Dan ketika eksekusi teknis, keduanya tak bisa main-main. Kodok kodok sombong!

Biasanya darimana lo dapat inspirasi untuk buat video parodi seperti Arya Wiguna? Karena video ini simple, banyak loop-nya, dan walaupun bisa dibilang norak, banyak orang justru sangat suka dan bisa nonton video itu berkali-kali.
Dalam praktik saya berkarya, saya menjaga jarak antara saya dan sumber referensi supaya karyanya bisa semurni mungkin berasal dari keseharian personal seniman. Kecenderungan bermain yang cukup besar tadi lah yang mendorong saya untuk terus bereksperimen pada konten juga medium.

Pada pameran Jakarta Biennale 2013 kemarin, lo juga ikut berpartisipasi dan dapat cukup banyak perhatian. Karya lo di JB 2013 itu sebuah video berjudul “The Name of Futile Gesture“. Video ini unik ya, karena sifatnya interaktif dan lo pakai sistem kinetik untuk merespon gestur orang yang berdiri menghadap layar dan juga buat segala aksi yang terjadi di bilik lo ini bisa online streaming. Karya lo ini simple tapi sangat menarik karena karya seni yang interaktif di Indonesia cukup jarang ditemui. Apa harapan llo ketika penikmat seni bereaksi terhadap karya-karya lo?
Tak semua tanya ada jawabnya..

Semua karya seni lo membuat penikmat seni berpikiran wtf-was-he-thinking karena sangat menghibur, orang bisa tertawa lepas tiap lihat video lo karena video-viedo lo ini random dan aneh banget. Bicara tentang random, menurut lo (fase) random itu penting ga dalam proses kreatif seseorang? Seberapa besar kita butuh hal itu?
Pertanyaannya seberapa urgent randomness ada dalam karya kita? Apa tujuan dari randomness tersebut? Apa yang diharapkan saat ada randomness ada pada karya kita? Jika memang diperlukan, ya lakukan. Jika tidak perlu, ya lakukan juga. Dalam proses berkreasi, pertama kita harus sudah paham betul akan medium karya serta pesan apa yang akan disampaikan. Langkah berikutnya adalah mencermati proses kekaryaan kita. Jika objek kreasi kita (dirasa) punya celah untuk dibubuhi unsur random, langkah selanjutnya adalah menakar kerandoman dan mengelaborasinya. Carilah celah untuk menjadikan karya kita mempunyai double coding atau bahkan dibuat tak bermakna. Dengan begitu, kita semakin punya otoritas untuk bermain-main dengan persepsi/ekspekstasi penonton. Peletakkan unsur random bisa semakin baik jika berhubungan dengan pengolahan medium yang bersifat manipulatif. Medium dengan bentuk digital contohnya. Because when you know how bad that we need to manipulate things, then you know how to get the sensation of being make no sense, and the more you got the sensation of being make no sense, the more you got a privelage to get a wtf-was-he-thinking impressionx. The “x” is silent.

Selama ini, lo pernah bayangin ngga saat orang-orang mengapresiasikan segala hal yang lo buat/lakukan? Padahal menurut lo, hal itu sepele dan tidak serius.
Secukupnya sih, karena saya orang dibalik layar dan kalaupun akan banyak perhatian dari banyak orang, cukup exposure pada karyanya saja. Tidak pada siapa yang ada dibalik karya tersebut.

Salah satu video lo yang terkenal dan diliput beberapa media adalah “Eat Like Andy”. Terkait dengan pesan dari video itu, apa arti imitasi sebagai kritik?
Sebagai sebuah karya riset, dalam karya tersebut saya mengkritik sekaligus memperlihatkan realitas sosial yang terjadi dengan teknik mengimitasi (mimikri) semua gerakkan yang dilakukan seorang maestro Andy Warhol sebagai referensi. Dengan display televisi yang disandingkan, saya ingin melihat bagaimana proses cara menonton dan ditonton jika kedua realitas itu dibenturkan. Saya melempar wacana kemasyarakat tentang keorisinalitasan sebuah karya dan mencoba menepis tanggapan bahwa referensi yang datangnya dari barat itu selalu terdepan dan selalu keren. Yang pada akhirnya kita hanya bisa mengimitasikan identitas salah satu bangsa demi sebuah respon sosial. Sebuah kata bijak datang dari dosen studio saya Amrizal Salayan, bahwa “Kita melihat referensi agar kita tahu kita ada dimana”. Bukan permasalahan siapa mirip siapa, kenapa dia lebih bagus saya tidak? tetapi untuk mengidentifikasi kapasitas dan kapablitas kita sebagai bangsa untuk menghargai kedudukkan bangsa lain-yang lebih beruntung. Terima kasih…terima kasih…tidak perlu tepuk tangan. Mari kita lanjutkan lagi pertanyaannya.

Lo juga buat seri di Youtube, berjudul KillYourIdol. Inti video ini adalah lo dub artis dengan dialog lucu yang membuat mereka terlihat seperti idiot. Salah satu video yang menurut Sub-Cult sangat lucu adalah video dub Nine Inch Nails. Nah, ada rencana untuk dub artis/musisi lagi ga?
Sekali lagi, tak semua tanya ada jawabnya. Tak semua yang kau inginkan di dunia ini bisa kau dapatkan. Tak akan ada cinta yang lain. Tak Tak Tak Dug Tak Dug Tak.

Tentunya lo suka film-film eksperimental dong untuk dapat inspirasi karya-karya lo. Apa 5 film ekperimental yang menurut lo harus Sub-Cult tonton? 
Untuk rekomendasi film eksperimental banyak yang saya sukai, tapi janganlah suka sama yang eksperimental kalau sudah ada yang fundamental. Saya kasih rekomendasi 5 nama director/ producer/ writer favorit saya aja kali ya. Untuk judul-judul filmya bisa cari di wikipedia untuk anda yang mengaku sebagai insan dunia maya. – Hitoshi Matsumoto (Opera Jawa) – David Lynch (Ada Apa Dengan Cinta) – Terry Gilliam (Betty Bencong Slebor) – John Waters (Tali Pocong Perawan) – Alejandro Jadorowski (Seputih Kasih Semerah Luka)

Ngomong-ngomong apa yang bakal lo lakukan tahun ini? Pameran tunggal mungkin? Atau video (politik) jayus di YouTube?
Jangan terlalu banyak berekspektasi, tahun ini saya hanya mau fokus belajar rampak kendang dan menekuni tari salsa.

Ada tokoh politik yang paling ngena ke lo dan pengen lo dub ngga? Kira2 apa dubnya?
Semua caleg yang mukanya nemplok diatas spanduk-spanduk partai dipinggir jalanan seluruh negeri ini pengen saya dubbing kalau ada videonya di YouTube. Dan kira-kira dubbingnya seperti ini: “BIJI-BIJI-BIJI-BIJI-BIJI-BIJI-BIJI-BIJI” For more fun and hilarity check out his YouTube page, his blog, and Twitter

Words by Febrina Anindita Photos and videos courtesy of Fluxcup

Related Post

The epic collaboration between music and visual art
16 November 2016
Women empowerment through art
4 August 2016
Seven Magic Mountains Installation shows the power of colors that will blow your mind- because, who knew a stack of colorful rocks could make people so happy?
18 May 2016
Syagini in this solo exhibition “Spectral Fiction” made a world of her own, much more like Alice in James Turrell’s land
17 May 2016

Popular Post

Roemah Pulomanuk is the perfect combination of relaxing getaway and getting closer to nature at the same time
29 August 2012
Introducing MISC, where discarded woods get a second chance to live as brand new furnitures
30 April 2013
We discovered a hidden gem in the middle of the busy streets of Antasari and we …
13 May 2013
A short account of Seringai’s vocalist, Arian13. From failing to watch the Metallica Concert back in 1993 to being the opening act of their concert in 2013
20 September 2013
Open menu